Saturday, March 14, 2015




Jika Aku Menjadi Pekerja Sosial di Desa Sukamulya

Suatu masyarakat memiliki karakter tersendiri yang membedakannya dengan masyarakat lainnya. Tentunya apabila dilihat dari aspek wilayah, pemerintahan, ekonomi, pendidikan, kesehatan, keagamaan, kebudayaan, dan kondisi sosialnya. Begitupun dengan desa yang menjadi lokasi kegiatan Kuliah Kerja Nyata (KKN) penulis.
Desa Sukamulya yang terletak di Kabupaten Ciamis Kecamatan Purwadadi ini memiliki karakter tersendiri baik dari masalah maupun potensi desa. Selanjutnya akan dipaparkan mengenai aspek-aspek kehidupan Desa Sukamulya.]

Yang pertama aspek wilayah, Desa Sukamulya memiliki 4 Dusun yaitu Sukaharja, Cikadongdong, Karang Tengah, dan Karang Anyar, yang secara keseluruhan terdiri dari 4 RW dan 27 RT dengan luas wilayah sekitar 525 ha. Kondisi wilayah dikelilingi oleh kebun dan persawahan.
Aspek kedua yaitu pemerintahan, Desa Sukamulya dipimpin oleh Kepala Desa yang membawahi 4 Kepala Dusun dan 3 Kepala Divisi (Kasi) yaitu Kasi Ekonomi Pembangunan, Kasi Keagamaan, dan Kasi Umum. 
Kemudian dari aspek perekonomian, mata pencaharian warganya sebagai penderes gula kelapa, petani, peternak itik, ayam, dan kambing, penyadap karet, dan berwirausaha. Usaha/bisnis yang dijalankan oleh warga yaitu membuka warung kelontong, mendirikan bengkel, usaha pembuatan kerupuk, dan membuat gula kelapa. Tetapi  yang paling khas adalah pembuatan gula kelapa karena di desa ini banyak terdapat pohon kelapa serta distribusinya telah ke berbagai daerah seperti Tasikmalaya, Garut, Bandung, dan Kuningan.
Dari aspek pendidikan, terdapat 3 SD, 1 MTs, 1 MA, dan 1 Pondok Pesantren. Yaitu SDN Sukamulya 1 dan 2, Madrasah Ibtidaiyah Cikadongdong, MTs dan MA Al Falah, serta Ponpes Al Mujtahidin. Kondisi sekolah kurang memadai dilihat dari sarana-prasarana, fasilitas, dan materi pembelajaran. Terdapat sekolah yang tidak memiliki kursi dan meja untuk kegiatan belajar, tidak adanya perpustakaan, serta minimnya jumlah guru.

Selanjutnya aspek kesehatan, terdapat Pusat Kesehatan Desa yang terletak di Balai Desa. Permasalahan kesehatan ditangani oleh seorang Bidan dengan peralatan yang cukup lengkap dan ketersediaan obat generik. Bagi pasien yang memiliki BPJS tidak dikenakan biaya berobat. Selain itu kondisi lingkungan bersih dari sampah, tetapi banyak terdapat kotoran unggas sehingga rawan terjadi penyebaran penyakit terutama penyakit kulit pada anak-anak.



Dari aspek keagamaan, seluruh warga desa menganut agama Islam. Mereka memiliki kegiatan pengajian dan Majelis Ta’lim bahkan lembaga pendidikan pun berbasis Islam.
Terakhir dari aspek kebudayaan, warga desa memegang prinsip gotong royong. Ini terlihat dari acara-acara besar serta ketika membangun rumah/masjid. Kemudian hal yang menarik adalah tidak adanya tradisi tahlilan ketika ada warga yang meninggal dunia. Siklus perekonomian pun sederhana, cukup untuk memenuhi kebutuhan primer serta tidak mengutamakan keuntungan/laba. Kehidupan masyarakat cenderung statis.
Masalah yang dihadapi desa mulai dari sawah yang mengalami banjir yang terletak di Dusun Karang Tengah. Apabila hujan, sawah akan banjir  sehingga mengakibatkan gagal panen. Kemudian akses jalan yang buruk, kondisi air yang keruh karena tanah gambut (khusus Karang Tengah), serta tingkat pendidikan yang rendah sehingga kualitas sumber daya manusianya rendah. Warga lebih tertarik untuk merantau ke kota daripada membangun desanya.

Jika saya menjadi pekerja sosial di Desa Sukamulya saya akan bekerjasama dengan para stakeholder dan warga desa untuk mengembangkan desa. Dimulai dari memberdayakan masyarakat, seperti menurut Ife (1995: 61-64) pemberdayaan sebagai proses merupakan serangkaian kegiatan untuk memperkuat kekuasaan atau keberdayaan kelompok lemah dalam masyarakat.
Diperlukan peningkatan kualitas sumber daya manusia melalui pendidikan dan pelatihan keterampilan kerja supaya masyarakat memiliki pengetahuan dan kemampuan dalam memenuhi kebutuhan hidupnya. Kemudian menyampaikan aspirasi masyarakat kepada pemerintah daerah mengenai kondisi sawah dan hambatannya.
Berbicara mengenai proses pengembangan masyarakat, tentu tidak terlepas dari peran masyarakat itu sendiri. Terutama dalam salah satu pendekatan community intervention  Jack Rothman yaitu Locality Development dimana nilai dasarnya diperoleh melalui partisipasi dari warga masyarakat dalam menentukan tujuan-tujuan dan tindakan-tindakannya.
Melihat potensi yang dimiliki desa, terdapat bermacam-macam tumbuhan diantaranya pohon kelapa, pisang, rambutan, singkong, maja, dan lain-lain. Tetapi hingga kini warga belum memanfaatkannya dengan optimal serta belum ada pelatihan bagaimana  mengolah hasil buah tersebut menjadi produk makanan atau kesehatan. Padahal apabila warga menyadari potensi tersebut dan adanya pengarahan, maka dapat menjadi peluang usaha untuk meningkatkan taraf kehidupan. Kemudian dapat menyerap tenaga kerja sehingga warga tidak perlu merantau ke luar kota.
Dari masalah dan potensi yang dimiliki tersebut, partisipasi masyarakat merupakan kunci dari pembangunan desa dan pekerja sosial berperan sebagai fasilitator. Diperlukan self-awareness dari masyarakat sendiri untuk berperan membangun Desa Sukamulya secara bersama-sama, menjadikannya lebih baik dan berkembang di masa mendatang.

Referensi: Hanna, M. & Robinson, B.1994. Strategies for Community Empowerment. Lewiston, NY: Edwin Mellen Press.

 Ife, Jim & Frank Tesoriero. 2008. Community Development. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

No comments:

Post a Comment